Feeds:
Tulisan
Komentar

VIDEO KEKERASAN BEREDAR DI PALU

Kapolda : Itu Hanya Rekayasa

PALU – Video kekerasan yang diduga dilakukan sejumlah oknum senior polisi terhadap juniornya memantik reaksi dari Polda Sulteng. Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Suparni Parto kepada Radar Sulteng kemarin (19/2) mengatakan rekaman penganiayaan yang terekam itu merupakan rekayasa. “Semua pelaku termasuk yang menjadi korban sudah saya panggil. Dan mereka mengaku rekaman itu mereka buat tahun 2007. Menurut mereka rekaman itu hanya rekayasa mereka sebagai tanda kenang-kenangan karena mereka akan segera ditugaskan ketempat yang baru,” jelas jenderal bintang satu itu.

Kata kapolda, dalam video itu terekam empat senior sedang menganiaya salah seorang juniornya dalam sebuah ruangan. “Sebenarnya mereka itu semua satu angkatan. Yang menjadi berperan sebagai adik tingkat sekaligus korban adalah Bripda Haidar yang sekarang bertugas di Polres Banggai. Sedangkan yang berperan sebagai senior adalah Bripda Jumansar, Bripda Franky, Bripda Triadi, Bripda Irfan dan Bripda Muzakir. Nah, kelima orang ini sekarang bertugas di Direktorat Samapta,” terang mantan Direktur Intelkam Polda Metro Jaya itu.

Ditambahkannya, meskipun para pelaku mengaku rekaman itu dibuat hanya untuk kenang-kenangan. Namun kapolda tidak sepenuhnya percaya dengan keterangan pada jebolan SPN Batua Makassar tahun 2006 itu. “Meskipun hanya rekayasa, namun, dengan beredarnya video itu tentu telah membangun stigma negatif terhadap institusi kepolisian. Makanya, saya tetap akan menyelidikinya. Dan bila terbukti kekerasan itu mereka lakukan, tentu akan ada sanksi yang kita berikan. Apakah itu dalam berupa (sanksi) kode etik atau (sanksi) disiplin,” tegas alumnus Akpol 1980 itu.

 

Kapolda juga mengaku, sebelum video yang sarat dengan aksi anarkistis itu beredar, pihak Direktorat Samapta sudah pernah memproses kasus ini. “Padahal kasus ini pernah di tangani oleh Komandan Bagian Operasi (KBO) Samapta. Waktu itu, mereka sudah diperintahkan untuk menghapus rekaman itu, karena dampak yang timbul dari penayangan gambar tersebut akan berdampak pada citra kepolisian, meski hanya pura-pura,” jelasnya. Bahkan, keenam anggota tersebut juga langsung disanksi karena membuat gambar tersebut. Olehnya, saat ini Polda Sulteng berupaya untuk mencari tahu bagaimana gambar itu sampai beredar di masyarakat. Pasalnya, dari informasi yang diperoleh, gambar itu sebelum dihapus, sempat diedarkan kesejumlah rekan para pelaku itu.

Sementara itu, dalam tayangan video berdurasi 4 menit lebih itu tampak tiga anggota polisi memasuki sebuah bilik yang diduga di Markas Ditsamapta, Poboya. Di dalam kamar, seorang anggota lainnya yang sedang tertidur, tiba-tiba ditendang. Kontan anggota polisi yang mengenakan jaket olahraga kuning yang di dadanya terdapat logo Polda Sulteng itu, langsung terbangun. Tak berapa saat kemudian, tiga anggota polisi yang mengaku senior itu langsung melayangkan pukulan dan tendangan ke tubuh korban yang diketahui adalah juniornya.

“Jadi kamu yang mengaku senior? Kamu yang mengaku angkatan 29?,” tanya salah seorang senior dan langsung melesakkan pukulannya ke ulu hati sang korban. Meskipun korban berulangkali terjerembab, namun ketiga polisi itu tetap membopongnya kembali dan menyuruh si korban untuk meloncat-loncat. Tak hanya sampai disitu, selang beberapa menit kemudian, seorang polisi lainnya yang dalam rekaman itu di panggil ‘abang’ oleh tiga polisi lainnya langsung ikut bergabung. “Kamu belum dapat jatah dari abang,” cetus salah satu di antara mereka.

Aksi kekerasan itu bahkan dilakukan dengan menggunakan alat. Salah seorang yang mengenakan kaos warna cokelat, kemudian mengambil sandal dan menampar wajah juniornya itu berulang kali. Setelah puas menganiaya juniornya, keempatnya termasuk yang merekam gambar penganiayaan itu lalu menyuruh sang junior untuk tidur kembali sembari mengancam agar korban tak melaporkan kejadian itu kepada siapa pun. (ato/jpnn)

Sumber : Luwuk Post, 20 Pebruari 2009

Tulisan Sebelumnya »